PIKIRANMASA.COM//CILACAP – Kementerian Pertanian melalui Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) menggelar Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Petani dan Penyuluh Pertanian Kabupaten Cilacap, bekerjasama dengan Komisi IV DPR RI. Kegiatan ini diikuti oleh 90 orang petani dan 10 orang Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).

Mengusung tema Pemanfaatan Pekarangan Hortikultura Lestari (PHL) peserta mendapatkan materi secara klasikal di Hotel Sindoro, Kabupaten Cilacap, Jum’at (8/9).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, hortikultura merupakan subsektor pertanian yang memiliki kebanyakan kelebihan. Indonesia, kata Mentan Syahrul, memiliki beragam tanaman hortikultura yang tidak dimiliki oleh negara lain. Sehingga, hal ini akan memiliki implikasi positif bagi pengembangan bisnis hortikultura ke depan. Bahkan, kata Mentan Syahrul, beberapa tanaman hortikultura Indonesia telah mampu menembus pasar internasional.

“Indonesia ini adalah negara yang penuh dengan berkah. Kita memiliki tanaman yang tidak dimiliki oleh negara lain. Tentu ini menjadi keunggulan kita dan saya harap hal itu dapat terus dikembangkan,” kata Mentan Syahrul.

Pemanfaatan pekarangan, menurut Mentan Syahrul adalah upaya yang semakin hari terus berkembang. Dengan begitu, pertanian tak melulu soal lahan yang luas, namun mampu memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita.

“Itulah inovasi dan teknologi. Keduanya berkolaborasi membangun pertanian kita semakin maju, mandiri dan modern,” kata Mentan Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menegaskan, pertanian merupakan sumber rezeki yang bisa dilakukan siapa saja dan di mana saja. Menurutnya, sektor pertanian adalah bisnis, sekaligus lapangan kerja yang sangat menjanjikan. “Banyak hal yang bisa dilakukan dalam memanfaatkan lahan pekarangan, salah satunya melalui budidaya tanaman hortikultura,” ungkap Dedi.

Dedi melanjutkan, pemanfaatan lahan pekarangan, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan dapat mendukung ketahanan pangan nasional dengan memberdayakan potensi pangan lokal yang dimiliki masing-masing daerah. “Pekarangan rumah dapat dimanfaatkan dan dikelola melalui pendekatan terpadu untuk ditanami berbagai jenis tanaman. Oleh karenanya, mari manfaatkan pekarangan rumah sebagai lahan pertanian produktif,” ajak Dedi.

Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto berharap melalui Bimtek ini, bukan hanya meningkatkan aspek pengetahuan saja namun juga diikuti dengan praktek di lapangan.

“Sebagai salah satu UPT (Unit Pelaksana Teknis) di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian sudah menjadi kewajiban kami untuk bergerilya mendiseminasikan program dan inovasi dari Kementerian Pertanian. Melalui Bimtek ini, yang juga melibatkan PPL, kami berharap kedepannya ilmu yang didapat di ruangan ini dipraktikkan di lingkungannya masing-masing. Tentunya dengan pendampingan Dinas Pertanian, khususnya Bapak/Ibu PPL,” katanya.

Teti Rohatiningsih, anggota Komisi IV DPR RI yang juga hadir langsung di lokasi turut memberikan motivasi kepada seluruh peserta Bimtek.

“Saat ini kita perlu berinovasi dan berkreasi dalam usaha pertanian agar tetap bisa bertahan serta berkembang kedepannya. Salah satu hal yg dapat dilakukan adalah melakukan usaha pertanian dengan memanfaatkan pekarangan rumah kita masing-masing, dan dikombinasikan dengan metode tumpang sari,” ujar Teti.

Ia juga berharap hasil panen diperoleh nantinya dapat dijual atau diolah untuk menghasilkan nilai ekonomi, namun utamanya adalah dimanfaatkan sendiri, terutama pada saat harga komoditas pertanian cukup tinggi.

Hadir mewakili Kepala Dinas Pertanian Cilacap, Mahbub Junaedi, selaku Kabid Hortikultura berkomitmen penuh untuk penggalakkan PHL di wilayahnya. Pasalnya program tersebut juga diproyeksikan dapat mendukung penuruan prevalensi stunting di masyarkat.

“Program PHL sudah cukup lama digalakkan di Kabupaten Cilacap, yang dulu bernama Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Tujuan dilaksanakannya program tersebut untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan marjinal/pekarangan/ruang terbuka, serta meningkatkan produksi sayuran di rumah tangga dan pendapatan rumah tangga. Apabila kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar, maka harapannya mampu utk mendukung penurunan prevelensi stunting di masyarakat,” pungkas Mahbub.

By Den

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *